Mengenal Lebih Dalam Tentang Sejarah May Day

sejarah-may-day

Sejarah May Day termasuk narasi sejarah yang unik dalam peradaban manusia. Ditelusuri hingga ribuan tahun silam, festival May Day dimulai dari tradisi Republik Romawi yang identik dengan festival bunga. May Day digelar sebagai perayaan tiap 27 April – 3 Mei setiap tahun. Seiring waktu, banyak budaya yang mengadaptasi tradisi May Day dalam rupa-rupa bentuk dan perwujudannya.

Di belahan dunia bagian Utara, 1 Mei diperingati sebagai festival musim Semi. Ditandai dengan pergantian memasuki bulan Mei, musim Semi membawa harapan dan kehangatan yang penting bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Merayakan dan mengucap syukur merupakan inti utama dari perayaan May Day. Orang berdansa, bermusik, dan bersenang-senang setelah melewati musim Dingin. Namun, di masa puncak Revousi Industri di sepanjang abad ke-19, ribuan orang meninggal setiap tahun akibat kondisi lingkungan kerja yang buruk dan panjangnya jam bekerja.

Mengenal Sejarah May Day

Sontak, di akhir abad ke-19, May Day mendapatkan maknanya yang lain.

Golongan Sosialis dan Komunis mendaulat 1 Mei sebagai momentum peringatan bagi asosiasi pekerja international, International Workers’ Day. Peringatan itu sendiri dibuat untuk memperingati kerusuhan dan peristiwa bom dalam demonstrasi pekerja di Haymarket, Chicago pada tahun 1886.

Sampai hari ini, sejarah May Day dikenal luas sebagai peringatan atas tenaga kerja manusia yang menuntut adanya kesetaraan hak dan kewajiban dalam setiap hubungan kerja, serta perlakuan adil terhadap pekerja di seluruh dunia.

Kaum pekerja yang tak berdaya terus memikirkan dan mencari jalan keluar dari kondisi ini. Federation of organized Trades and Labor Unions yang di kemudian hari berganti nama menjadi American Federation of Labor (AFL) menggelar konvensi besar di Chicago pada tahun 1884.

Federasi ini berjasa besar menetapkan batas kerja maksimal 8 jam sehari bagi semua pekerja terhitung sejak 1 Mei 1886. Ketika waktu yang dijanjikan tiba, lebih dari 300 ribu pekerja di Amerika yang terdaftar sebagai pekerja di 13 ribu bisnis kecil maupun besar, melakukan demonstrasi.

Keesokan harinya, secara bertahap jumlah mereka bertambah lagi hingga hampir 100 ribu. Kerusuhan dan bom di Haymarket dimulai dari demonstrasi besar ini. Sejarah May Day di era berikutnya hampir selalu dimulai dari peristiwa ini.

Sejarah May Day

Sejarah_May_Day
Source: unsplash

Hampir di setiap negara, golongan pengusaha dan pekerja selalu terbentur oleh kepentingan yang berbeda. Sejarah May Day di Indonesia hingga hari ini dikenal dengan peringatan Hari Buruh Internasional. Peringatan ini lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja dalam usahanya meraih hak-hak dalam Ekonomi dan Industri yang ideal dalam hubungan kerja pemilik modal dan pekerja.

Faktor eksternal perkembangan Kapitalisme dunia dan Revolusi Industri abad ke-19 turut andil dalam menandakan sebuah perubahan mendasar dalam hubungan kerja ini.

Perlawanan yang terus digelorakan oleh kelas pekerja semata-mata akibat adanya kondisi pengetatan disiplin yang menekan hak, minimnya upah buruh, serta buruknya kondisi kerja di lingkungan pabrik.

Tak heran, jam kerja yang sangat menekan hingga belasan jam per hari merupakan faktor utama yang membuat tingkat kualitas hidup pekerja turun drastis.

Kesamaan Nasib

Kesamaan kondisi ini mengakibatkan kelas pekerja di seluruh dunia bersatu mengambil sikap-sikap perlawanan. Narasi sejarah May Day mencatat dua nama tokoh yang berpengaruh; Peter McGuire dan Matthew Maguire.

Pada 1872, sekitar satu dekade sebelum peristiwa Haymarket, mereka mengorganisir ratusan ribu orang untuk melakukan pemogokan menuntut pengurangan jam kerja dan perbaikan taraf hidup masyarakat pekerja.

Akhirnya pada Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa Haymarket sebagai peringatan besar dan 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Sedunia. Kongres itu mengeluarkan resolusi penting:

Sebuah aksi Internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu ketika semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.

Resolusi ini ditanggapi serius di berbagai negara dan sejak 1890, tanggal 1 Mei diberi istilah May Day, dan diperingati oleh kaum buruh di banyak negara dengan agenda dan tuntutan yang serupa.

Di Indonesia, Hari Buruh Internasional mulai diperingati pertama kali pada 1920. Ibarruri Aidit, (Putri sulung D.N. Aidit) yang pernah menghadiri Hari Buruh Internasional di Uni Soviet bersama orangtuanya, kemudian menghadiri pula peringatan yang sama di Tian An Men, RRC.

Berdasarkan pengakuannya, pada peringatan itu hadir juga pemimpin besar mereka Mao Zedong, pangeran Sihanouk bersama istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja, dan pemimpin partai Komunis Birma. Sayang, pergumulan politik sepanjang masa Orde Baru membuat peringatan Hari Buruh di Indonesia dilarang.

1 Mei tak jadi hari libur nasional. Menjadi peringatan sejarah May Day sejak tahun 1998. Gerakan buruh mulus terasosiasikan dengan gerakan Komunis. Sebuah gerakan yang sejak peristiwa tragedi G30S 1965 menjadi musuh negara. Atas nama stabilitas ekonomi-politik, peringatan Hari Buruh Internasional secara gegabah dilarang.

Orde Baru punya pretensi khusus untuk menjaga kestabilan politik. Namun untuk jangka panjang, menetapkan gerakan buruh sebagai gerakan Komunis adalah kesalahan fatal. Cukup melihatnya sedikit lebih detil, di negara-negara yang bahkan anti-Komunis, kita bisa lihat gerakan buruh tetap punya ruang luang yang diakomodasi.

Sejarah gerakan buruh di era Kolonialisme Belanda sangat penting untuk menjadi referensi zaman. ‘Buruh’ pada mulanya, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua kaum pekerja, kuli, petani, pegawai pemerintah, pekerja kereta api, perkebunan, tambang, industri, bahkan perikanan.

Karena karakteristiknya yang agraris, protes gerakan petani yang mula-mula berupa riak kecil dalam menuntut perbaikan kesejahteraan, dari waktu ke waktu mendapatkan perhatian yang semakin meluas karena melibatkan gerakan kolektif.

Akhirnya, gerakan massa yang benar-benar terhitung sebagai protes kaum buruh diinisiasi oleh pekerja kereta api, yang menuntut perbaikan kondisi kerja.

May Day di Indonesia

sejarah-may-day
Source: 123rv

Kondisi di pulau Jawa yang hampir mirip dengan yang terjadi di Amerika setelah Industrialisasi adalah upah harian yang sangat rendah, sementara durasi kerja yang sangat panjang, dan nihilnya jaminan kesehatan dan kesejahteraan buruh dan keluarga buruh.

Kondisi ini terbentuk akibat kebijakan perbudakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda kala itu yang memang sudah terbiasa dengan ‘Manajemen Perbudakan’ seperti yang dilakukan dengan rapi di Suriname dan Antilles. Perbudakan punya sejarah yang jauh lebih panjang lagi.

Ini bisa ditarik jauh ke era Yahudi-Romawi, yang punya tradisi kepemilikan budak. Juga adanya jual-beli manusia untuk menjadi budak. VOC, Serikat dagang milik kerajaan Belanda kala itu, memang sudah bertahun-tahun melakukan jual-beli budak.

Sontak saja, di kota-kota padat penduduk seperti Batavia, Semarang, Bandung, dan Surabaya, perbudakan berlangsung dengan mulusnya. Sampai akhirnya pada 1905 muncul inisiatif gerakan serikat buruh pertama di Jawa.

Akan tetapi, karena serikat ini hanya merekrut anggota yang jumlahnya kecil dan di bawah pengaruh kendali Eropa, sensus penduduk tahun 1930 tetap mencatat sekitar 30-40% buruh pribumi bekerja dengan sistem upah harian.

Buruh dan Politik

Perjuangan gerakan buruh terus berlangsung sampai melewati berbagai rezim politik dan fenomena zaman seperti Perang Dunia I dan II. Dalam kasus negara Indonesia, salah satu penanda zaman yang penting adalah era Reformasi Pasca 1998.

Di era ini menandakan sedikit celah merdeka bagi gerakan buruh di Indonesia. Pembentukan serikat menjadi relatif lebih mudah dengan ratifikasi Konvensi ILO No. 87 yang menjamin hak buruh untuk berserikat.

Menteri Tenaga Kerja Fahmi Idris juga mengeluarkan peraturan menteri yang mewajibkan seluruh serikat buruh mendaftar ulang. Aturan ini menyuburkan dan melegitimasi status dan eksistensi mereka.

Tahun 2000, aturan ini mendapat nilai hukum penting dengan undang-undang yang tegas hak serikat buruh. Sayang, penegakkan hukum di Indonesia masih problematis. Ini membuat gerakan buruh masih sulit mencapai keadaan yang benar-benar terlindungi secara legal.

Akhirnya, kondisi kesejahteraan golongan buruh dan tenaga kerja di Indonesia hanya akan bisa terus membaik dengan perjuangan nyata dari serikat. Gerakan ini perlu diorganisir dengan rapi. Juga perlu adanya kemauan dari para pemimpin negara yang peka untuk ikut mewujudkan perbaikan. Sejarah May Day telah membuktikan itu selama ratusan tahun sebelumnya.

Related posts

Leave a Comment

Pintaria Blog
Upgrade Dirimu Sekarang!
profile pic url
14.9k Followers
Follow